29 November, 2009

Meracik Berita Jadi Cerita!

Oleh: M. Nurkholis Ridwan

“10.000 orang tewas adalah pembantaian.
Satu orang tewas adalah tragedi.”

Apa yang memilah rasa sebuah masakan? Bukan sekadar bahan baku, tapi juga cara mengolahnya. Bahan baku boleh sama, namun racikannya berbeda. Mungkin mirip dengan feature. Ketika kita harus menghadapi serbuan berita yang berbagai-bagai, kita tak punya waktu untuk melirik semua. Kita harus memilih. Karena itu, kita butuh lebih dari sekadar fakta: sebuah cerita! Suatu jalinan tulisan yang tak hanya menggugah pikiran, namun menyentuh sudut emosi, menggelitik perasaan dan menggerakkan jiwa. Sebuah tulisan yang mendekatkan hati dengan peristiwa, mengundang pembaca untuk terlibat dan meresapi seolah ia ikut menyaksikannya terjadi. Untuk mewujudkan visi seperti ini dalam tulisan, feature bisa jadi alternatif.

Seperti Pisang Goreng
Banyak definisi tentang feature. Ada yang bilang, “Feature adalah artikel yang kreatif, kadang-kadang subyektif tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan.”
Mc. Kinney dari Denver Post, bertutur tentang feature. Menurutnya, feature adalah tulisan yang tidak bersifat berita langsung, sehingga pegangan utama 5W+1H bisa diabaikan.
Wolseley dan Campbell dalam Exploring Journalism mengibaratkan feature sebagai asinan dalam sajian makanan. Ia tidak memberikan kalori utama, namun membangkitkan selera makanan sekaligus sebagai penyedap.
Ada juga yang bilang, daripada pusing mengenali sosok feature, lebih mudah mengenalinya setelah membacanya. Mungkin seperti pisang goreng. Daripada pusing menjelaskan rasanya, lebih baik melihatnya dan mencicipinya. Apalagi jika ditemani secangkir teh.

Ragam Hidangan Feature
1. Feature Berita (News Feature).
Maksudnya, berita yang ditulis dengan memperhatikan prinsip-prinsip penulisan feature. Nilai-nilai berita jurnalistik cukup diperhatikan di sini. 2. Feature Profil (Profile Stories).
Bercerita tentang riwayat hidup orang ataupun lembaga.
3. Feature Human Interest.
Sebuah feature yang melibatkan pembacanya secara emosional, merangsang dan menyentuh perasaan.
4. Feature Musiman (Seasonal Features). Berkisah tentang sebuah peristiwa yang terjadi secara musiman, seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan lainnya.
5. Feature Sejarah. Contohnya tentang peristiwa proklamasi kemerdekaan RI, bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, dan lainnya.
Feature Petualangan. Contoh: kisah penaklukan puncak Mount Everest.
6. Feature Interpretatif. Contoh: peristiwa perampokan bank. Tulisan ini bisa menyajikan tentang sistem keamanan bank, bagaimana bank memberikan pelatihan keamanan kepada pegawainya. Atau mengungkan lebih jauh tentang tipikal perampok bank, termasuk peluang perampok ditangkap atau dihukum.
7. Feature Kiat. Contoh: kiat mereparasi motor, komputer, bercocok tanam, dan lainnya.

Prinsip Umum Feature
1. Kreativitas
Berbeda dari penulisan berita biasa, penulis boleh ‘menciptakan’ sebuah cerita yang dibangun di atas fakta. Untuk itu, butuh banyak kreativitas dan imajinasi penulis untuk menyajikan sebuah berita dengan menarik.
2. Subyektivitas
Ada beberapa feature yang ditulis dengan bentuk “Aku”, seperti juga penulisan cerita. Namun, ini bukan satu-satunya gaya. Yang terbaik, tetap gunakan sudut “orang ketiga”. Selain lebih bisa dinikmati, juga unsur obyektivitas lebih mudah dirasakan pembaca. Karena itu, kata banyak wartawan kawakan, “Kalau Anda bukan tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan”
3. Informatif
Harus ada informasi yang Anda sajikan. Informasi itu boleh jadi kurang penting, atau secara berita bobotnya kurang. Namun dengan penyajian yang menari, insya Allah dapat menarik perhatian membaca.
4. Menghibur
Berikan hiburan, jangan sekadar bahan bacaan. Feature memberikan variasi terhadap berita rutin seperti pembunuhan, skandal, bencana dan konflik yang selalu menghiasi kolom-kolom berita. Feature bisa membuat pembaca tertawa tertahan. Seorang wartawan bisa menulis “cerita berwarna-warni” untuk menangkap perasaan dan suasana dari sebuah peristiwa. Dalam menulis, sasaran utama adalah bagaimana menghibur pembaca dan memberikan kepadanya pespektif baru dan segar.
5. Awet
Tekanan deadline yang jarang memungkinkan wartawan menulis lebih dalam. Ia punya cukup waktu untuk mengumpulkan sebanyak mungkin fakta, memilahnya dan memilihnya untuk diletakkan dalam tulisan. Karena itu, feature bisa dinikmati untuk jangka waktu yang lebih lama: berhari, berpekan atau bahkan berbulan.
Dapat dikatakan, feature menekankan pada fakta-fakta yang dapat merangsang emosi (menghibur, memunculkan empati, disamping tidak meninggalkan unsur informasi). Karena itu, ada yang menyebut feature sebagai kisah human interest atau kisah yang berwarna (colourful)

Sesekali Berteori
Berikut ini, beberapa segi yang harus diperhatikan dalam penulisan feature:
Bukan sekadar soal waktu
Bukan berarti faktor waktu tidak penting, namun kadar aktualitas (kebaruan) yang rendah, bisa diimbangi dengan keunggulan-keunggulan lain, seperti penyajian, unsur human interest, dan latar belakang peristiwa yang cukup kaya.

Jangan abaikan latar belakang
Untuk menjalin berita menjadi sebuah cerita, fakta-fakta yang dinilai kurang penting, bisa jadi penting. Penulis butuh lebih banyak bahan baku untuk membuat cerita itu hidup. Latar belakang orang, peristiwa, tempat, suasana, konteks waktu, peristiwa sejenis, apa saja. Kumpulkan fakta sebanyak-banyaknya. Untuk menilai penting tidaknya fakta itu, biarkan tulisan Anda yang menilainya.

Baca kesenangan pembaca
Anda harus menduga kesenangan pembaca. Tonjolkan kontak antar pokok masalah dengan kesenangan pembaca. Bukan dari selera penulis sendiri. Coba raba apa yang menarik orang untuk membaca. Apa saja. Di sini Anda perlu sedikit imajinasi untuk memandang sisi lain dari fakta. Pilih yang paling besar nilainya, lalu letakkan dalam judul, lead dan pembuka tulisan. Nilai itu tidak ditentukan oleh asas kebaruan, konflik, kedekatan, dan lainnya yang lazim dikenal dengan nilai berita. Yang dimaksud dengan nilai, adalah hal-hal yang menggelitik dan merangsang orang untuk “menikmati”, bukan sekadar “membaca” tulisan Anda.

Lupakan ‘Piramida Terbalik’
Model piramida terbalik (yang terpenting, penting dan tidak penting) yang lazim digunakan dalam penulisan Spot News bisa diabaikan. Dalam penyajian, yang terpenting adalah tulisan Anda enak dibaca. Karena itu, ada yang bilang, teknik menulis feature yang bagus adalah seperti menulis cerpen yang bagus. Bedanya, dalam feature Anda menyajikan fakta. Sedang dalam cerpen, Anda menyajikan khayalan dan imajinasi. Tapi bukan berarti, Anda bebas menggunakan kata-kata yang berbunga-bunga seenaknya. Bahasa yang sederhana, mudah dipahami, cepat dicerna dan tidak bias, harus tetap Anda perhatikan.

Jaga sistematika dan runtut tulisan
Mengalir seperti air. Jangan biarkan tulisan Anda terantuk kerikil-kerikil fakta yang mengganggu runtutnya tulisan. Jangan segan-segan memotong dan menghilangkan bagian-bagian yang tak perlu dari tulisan.

Seperti menikmati alunan musik, informasi pun masuk ke dalam otak pembaca. Seperti menikmati susu, lezatnya tercicipi, gizinya terkonsumsi.

Berikan jiwa pada fakta
Pakar jurnalistik memberikan sebuah petuah tentang tulisan yang bagus: “Show it, don’t tell it!” (Tunjukkan, jangan ceritakan). Sajikan peristiwa itu seolah-olah terjadi di depan mata, seolah-olah pembaca ikut melihatnya. Sebab apa yang dilihat lebih cepat ditangkap daripada diceritakan. Gunakan kata-kata yang memperjelas sudut-sudut peristiwa, tokoh, tempat, dan lainnya.

Waspadai opini
Hindari banyak beropini. Ingat, Anda sedang menulis berita. Orang tidak butuh opini Anda dalam menulis feature. Anggap saja, opini Anda sebagai ornamen yang dipasang kalau kita yakin ia dapat mempercantik tulisan, bukan mengubah atau membentuk esensi tulisan. Seperti pesan seorang penulis, “Boleh beropini, namun fakta tetap keramat!”

Rumus Sederhana
1. Judul
2. Lead
3. Uraian
4. Kesimpulan

Sepuluh Prinsip Penulisan yang Jelas a la Robert Gunning
1. Umumnya buatlah kalimat pendek. Setiap kalimat harus berbeda panjangnya, kalau tidak ingin membosankanpembaca. Jangan menggempur pembaca terus-menerus dengan kalimat pendek. Mengubah-ubah panjang kalimat menciptakan variasi dan meningkatnya rasa enak dibaca.
2. Pilih kata-kata yang sederhana ketimbang yang rumit. Terkadang hal itu memang tak dapat dihindari. Tapi selagi bisa, gunakan kata dan kalimat yang sederhana. Ada yang bilang, “The art of writing is make it simple.”
3. Pilihlah kata-kata yang lazim. Penulis harus menghubungkan diri dengan pikiran pembaca. Hindari yang rumit, megah, indah dan berbunga-bunga. Hati-hati bermain kata.
4. Hindari kata-kata yang tak perlu. Ingat asas hemat.
5. Beri kekuatan pada kata kerja. Kata kerja aktif dan kuat lebih baik daripada kata kerja pasif, karena lebih langsung, hidup dan bersemangat.
6. Tulislah seperti layaknya orang bertutur. Hindari bahasa formal dan kaku, utamanya dalam menulis lead.
7. Gunakan istilah yang bisa dibayangkan pembaca. Hindari penulisan yang samar atau berkabut. Jelaskan maknanya, kalau Anda menggunakan istilah-istilah asing.
8. Hubungkan dengan pengalaman membaca. Sebuah statistik rumit yang menggunakan angka dan persen, lebih mudah Anda sajikan dengan membuat perbandingan yang mudah dipahami pembaca.
9. Gunakan variasi. Ingat, semua penulisan adalah komunikasi. Komunikasi yang baik meminta variasi yang kaya. Untuk itu, penulis dituntut kaya bahasa, agar mudah menjelaskan, mengungkapkan dan mengekspresikan maksud.
10. Tulislah untuk menyatakan, bukan mempengaruhi atau memberi kesan.

Semoga bermanfaat!

* * *

Kredit Makalah:
Gizi tulisan ini banyak diambil dari tulisan-tulisan lepas tentang feature. Sebagian tulisan itu merujuk pada Feature: Writing for Newspaper, Daniel R. Williamson (1980) dan Reporting for the Print Media, Fred Fedler (1989).